Eni Kusuma, Pembantu Rumah Tangga Penulis Buku Motivasi Pertama di Indonesia April 20, 2007
Posted by lensamata in sinopsis buku.trackback
Eni
Kusuma, TKW asal Banyuwangi, Jatim, membuat sejarah. Bukunya yang
berjudul Anda Luar Biasa tercatat sebagai buku motivasi pertama yang
ditulis seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia. Siapa sebenarnya
Eni?
ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi
ENI terlahir dengan nama Eni Kusumawati pada 27 Agustus 1977. Dia
tumbuh dan besar dalam asuhan keluarga kurang mampu di rumah sederhana
di kawasan Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua orang tuanya
mengandalkan hasil jualan kerupuk keliling di pasar yang tidak jauh dari
rumahnya. Penghasilan itu dirasa sangat kurang untuk menghidupi dia dan
ketiga kakak perempuannya.ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi
Sejak kecil, Eni punya kekurangan; gagap ketika bicara. Karena telaten berlatih bicara, gagapnya sudah banyak berkurang saat dia masuk SMPN 3 Singotrunan, Banyuwangi.
Ketika duduk di bangku SMP, Eni pernah dihukum sekolah karena tidak mampu membeli sepatu yang diwajibkan sekolah. “Kaus kaki pun punya hanya sepasang, apalagi seragam sekolah. Jika hujan, baju saya tidak dicuci,” kenangnya.
Setamat SMP, Eni melanjutkan sekolah di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah). Berbeda dengan saat bersekolah di SMP, perjalanan Eni selama di SMA lancar-lancar saja. Setamat SMA dia sempat bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai tenaga administrasi. Tidak beberapa lama, tempat kerjanya bangkrut.
Eni tidak betah menjadi pengangguran. Tekadnya pun bulat untuk berangkat bekerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. “Motivasi saya bekerja adalah mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk kebutuhan hidup keluarga saya,” ujar bungsu tiga bersaudara itu.
Pada 2001, anak pasangan M. Yasin dan Asfia tersebut berangkat kerja ke Hongkong sebagai pembantu rumah tangga. Di Hongkong Eni mengurusi segala kebutuhan keluarga Chan. Mulai merawat anak, mengepel, setrika, hingga membersihkan rumah. “Tiga bulan pertama bekerja, saya tidak mendapatkan gaji dan diwajibkan untuk menguasai bahasa Kanton,” katanya.
Sebagai pembantu rumah tangga, Eni merasa setiap waktu adalah berharga. Karena sangat hobi membaca, dia setiap ada waktu luang menyempatkan diri untuk membaca. Seiring perjalanan waktu, anak juragannya mulai beranjak usia sekolah. Waktu itu setiap hari Eni mengantar anak juragannya sekolah.
“Saat anak juragan saya sekolah, saya menyempatkan diri ke internet dan perpustakaan. Enaknya, perpustakaan di sana menggunakan fasilitas internet dan membaca buku gratis,” kata wanita berjilbab itu.
Lewat internet, dia banyak belajar hingga akhirnya bergabung di milis kepenulisan di Hongkong Koosta. Di sana tempat TKW yang doyan menulis bergabung menjadi satu untuk mengekspresikan dirinya.
Eni pun menemukan situs www.Pembelajar.com yang menjadi jalan pembuka untuk mengubah jalan hidupnya. Situs tersebut merupakan kurikulumnya, sedangkan milis adalah tempat praktiknya. Kurang lebih enam bulan dia dibimbing Edy Zaques di situs itu. “Website ini sangat luar biasa. Saya mendapatkan apa pun di dalamnya,” ujarnya.
Lahir dari keluarga serbapas-pasan dan sejak kecil harus berhadapan dengan segala kekurangan itulah yang mendorong Eni selalu belajar. Hingga akhirnya, dia mencapai kesuksesan dengan menulis buku yang berjudul Anda Luar Biasa yang tercetak hingga 3.000 eksemplar.
Kontan, buku yang berisi tentang kehidupan Eni di Hongkong itu mendapatkan pujian dari penulis buku best seller, antara lain, Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Adi W. Gunawan, dan Bonari Nabonenar.
Tak sedikit pujian yang mampu mencengangkan bahwa tulisan Eni adalah tulisan yang sangat luar biasa. Tung Desem Waringin mengatakan, tulisan Eni sangat dahsyat.
Eni berpandangan bahwa berprofesi apa pun, entah itu tukang becak, tukang sapu, hingga pembantu rumah tangga, jika ingin sukses harus selalu belajar dan belajar. “Sejak kecil saya suka membaca. Namun, keluarga saya termasuk keluarga tidak mampu. Jadi, saya suka membaca apa pun. Koran bungkus nasi pun saya baca,” katanya
Puluhan puisi dan novelnya dibaca oleh kumpulan penulis dan novelis Indonesia maupun Hongkong. Eni mengatakan, puisinya yang berjudul Ajari Aku Kaya Om dijadikan buku bersama 100 penyair Indonesia dalam buku Jogja 5,9 Skala Richter. “Saat itu, saya bangga sekali,” ujarnya.
Selain itu, karya Eni ada di kumpulan cerpen Majalah Peduli milik Bonari Naboenar serta Majalah Ekspresi di Hongkong.
Sebagai TKW, Eni juga pernah mengalami nasib tragis. Dia pernah menjadi sasaran amukan juragannya hingga diusir. Dia pun pergi ke salah satu organisasi buruh di Hongkong yang bernama APPIH.
Saat itu saya bingung di-terminate (dipecat sebelum masa kontrak) atau tidak,” kata istri Hisam itu.
Namun, setelah diurus oleh agensi di Hongkong, juragan Eni menyusul ke APPIH. Keluarga Chan pun meminta maaf dan meminta Eni kembali ke rumahnya. Namun, saat itu Eni menolak. “Siapa yang tidak sakit hati. Kami tiba-tiba diusir begitu saja,” tuturnya.
Namun, setelah majikannya berjanji tidak mengulangi lagi, hati Eni pun luluh. Dia akhirnya kembali bekerja di rumah keluarga Chan. “Pada Februari 2007, saya putuskan untuk kembali ke Indonesia. Saya pulang ke rumah saya di Banyuwangi,” katanya. (*)
Selasa, 10 April 2007
Terbitkan Buku Motivasi, Tercetak 3.000 Eksemplar
Eni Kusuma, TKW Pembantu Rumah Tangga Intelek
Eni
Kusuma, TKW asal Banyuwangi, membuat sejarah. Bukunya yang berjudul
Anda Luar Biasa tercatat sebagai buku motivasi pertama yang ditulis oleh
seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia. Siapa sebenarnya Eni?
ENI
terlahir dengan nama Eni Kusumawati, 27 Agustus 1977 silam. Dia tumbuh
dan besar dalam asuhan keluarga kurang mampu di rumah sederhana di Jalan
Belitung nomor 76, Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua
orangtuanya mengandalkan hasil jualan kerupuk keliling di pasar yang
tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan itu dirasa sangat kurang untuk
menghidupi dia dan ketiga kakak perempuannya.
Sejak
kecil, Eni punya kekurangan, yakni gagap ketika bicara. Karena telaten
berlatih bicara, gagapnya sudah banyak berkurang saat dia mulai masuk
SMPN 3 Singotrunan, Banyuwangi.
Ketika
duduk di bangku SMP, Eni pernah dihukum sekolah karena tidak mampu beli
sepatu yang diwajibkan oleh sekolah. ‘’Kaus kaki pun punya hanya
sepasang, apalagi seragam sekolah. Jika hujan datang, baju saya tidak
dicuci,’’ kenangnya.
Setamat
SMP, Eni melanjutkan sekolah di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah).
Berbeda ketika sekolah di SMP, perjalanan Eni selama di SMA
lancar-lancar saja. Setamat SMA, dia sempat bekerja di sebuah perusahaan
kecil sebagai tenaga administrasi. Tidak beberapa lama, tempat kerjanya
bangkrut.
Eni
tidak betah menjadi pengangguran. Tekadnya pun bulat untuk berangkat
bekerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. ‘’Motivasi saya
bekerja adalah mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk kebutuhan
hidup keluarga saya,’’ ujar bungsu tiga bersaudara ini.
Tepat
pada 2001, anak pasangan M Yasin dan Asfia ini berangkat kerja ke Hong
Kong sebagai pembantu rumah tangga. Di Hong Kong itu, Eni mengurusi
segala kebutuhan keluarga Chan. Mulai merawat anak, mengepel, setrika
hingga membersihkan rumah. ‘’Tiga bulan pertama bekerja, saya tidak
mendapatkan gaji dan diwajibkan menguasai bahasa Kantonis,’’ katanya.
Sebagai
pembantu rumah tangga, Eni merasa setiap waktu adalah berharga.
Terutama dirinya yang sangat hobi membaca, ada waktu luang selalu
menyempatkan diri membaca. Seiring perjalanan waktu, anak juragannya
mulai beranjak usia sekolah. Waktu itu, Eni yang mengantar anak
juragannya sekolah setiap hari. ‘’Saat anak juragan saya sekolah, saya
menyempatkan diri ke internet dan perpustakaan. Enaknya perpustakaan di
sana, menggunakan fasilitas internet dan membaca buku gratis,’’ kata
wanita berjilbab ini.
Di
internet, dirinya banyak belajar hingga akhirnya bergabung di milis
kepenulisan di Hong Kong Koosta. Di sana tempat TKW yang doyan menulis
bergabung menjadi satu untuk mengekspresikan diri.
Eni
pun menemukan situs www.Pembelajar.com yang jadi jalan pembuka untuk
mengubah jalan hidupnya. Situs tersebut merupakan kurikulumnya,
sedangkan milis adalah tempat praktiknya. Kurang lebih enam bulan hasil
belajarnya di bawah bimbingan Edy Zaques ada di www.Pembelajar.com.
‘’Singkatnya, website ini sangat luar biasa, saya mendapatkan apa pun di
dalamnya,’’ ujarnya.
Lahir
dari keluarga pas-pasan, dan sejak kecil harus berhadapan dengan segala
kekurangan itulah yang membuat Eni selalu belajar. Hingga akhirnya dia
mencapai kesuksesan dengan menulis buku yang berjudul Anda Luar Biasa
yang tercetak hingga 3.000 eksemplar.
Kontan,
buku yang berisi tentang kehidupannya di Hong Kong tersebut mendapatkan
pujian dari penulis buku best seller seperti Andrie Wongso, Tung Desem
Waringin, Adi W Gunawan, hingga Bonari Nabonenar.
Tak
sedikit, pujian yang mampu mencengangkan, bahwa tulisan Eni adalah
tulisan yang sangat luar biasa. Tung Desem Waringin mengatakan, tulisan
Eni sangat dahsyat.
Eni
berpandangan bahwa menjadi seorang apa pun, entah itu tukang becak,
tukang sapu hingga pembantu rumah tangga, jika ingin sukses harus selalu
belajar dan belajar. ‘’Sejak kecil saya suka membaca, namun keluarga
saya termasuk keluarga tidak mampu. Jadi saya suka baca apa pun hingga
koran bungkus nasi pun saya baca,’’ katanya
Hingga
akhirnya, puluhan puisi dan novelnya dibaca oleh kumpulan penulis dan
novelis Indonesia maupun Hong Kong. Eni mengatakan, puisinya yang
berjudul Ajari Aku Kaya Om dijadikan buku bersama 100 penyair Indonesia
dalam buku Jogja 5,9 Skala Richter. ‘’Saat itu, saya bangga sekali,’’
ujarnya.
Selain
itu, karya Eni juga ada di kumpulan cerpen Majalah Peduli milik Bonari
Naboenar serta Majalah Ekspresi di Hong Kong. Hingga pernah mengomentari
tulisan Jennie S. Bev, penulis dan pengusaha sukses di San Fransisco
asal Indonesia. ‘’Di sini saya ingin diakui secara intelektual bahwa TKW
itu intelektualnya tidak rendah, dan di sini saya membuktikan saya
bisa,’’ kata wanita yang baru menikah itu.
Namun,
Eni juga pernah mengalami nasib tragis. Dia pernah menjadi sasaran
amukan juragannya hingga diusir. Dia pun pergi ke salah satu organisasi
buruh di Hong Kong yang bernama APPIH. Di sana Eni mulai menceritakan
tetek bengek yang dialaminya selama menjadi pembantu. ‘’APPIH adalah
salah satu tempat curhat, saat itu saya bingung di di-terminate (dipecat
sebelum masa kontrak) atau tidak,’’ kata istri Hisam ini.
Namun,
setelah diurus oleh agen di Hong Kong, juragan Eni menyusul ke APPIH.
Keluarga Chan pun minta maaf dan meminta Eni kembali ke rumahnya. Namun
saat itu Eni menolak. ‘’Siapa yang tidak sakit hati, kami tiba-tiba
diusir begitu saja,’’ tuturnya. Namun setelah majikannya berjanji tidak
mengulangi lagi, hati Eni pun luluh. Dia akhirnya kembali bekerja di
rumah keluarga Chan. ‘’Akhirnya pada bulan Februari 2007, saya putuskan
kembali ke Indonesia. Saya pulang ke rumah saya di Banyuwangi,’’
katanya.
Setibanya
di Indonesia, Eni langsung mendapat undangan untuk menjadi pembicara di
Tebet Sofyan Hotel Jakarta di acara Smart Write Smart Guinness bersama
Johanes Arifin Wijaya. ‘’Suatu kebanggaan tersendiri,’’ katanya.