Kamis, 15 Maret 2012

Eni Kusuma, Pembantu Rumah Tangga Penulis Buku Motivasi Pertama di Indonesia April 20, 2007

Posted by lensamata in sinopsis buku.
trackback

Eni Kusuma, TKW asal Banyuwangi, Jatim, membuat sejarah. Bukunya yang berjudul Anda Luar Biasa tercatat sebagai buku motivasi pertama yang ditulis seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia. Siapa sebenarnya Eni?

ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi
ENI terlahir dengan nama Eni Kusumawati pada 27 Agustus 1977. Dia tumbuh dan besar dalam asuhan keluarga kurang mampu di rumah sederhana di kawasan Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua orang tuanya mengandalkan hasil jualan kerupuk keliling di pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan itu dirasa sangat kurang untuk menghidupi dia dan ketiga kakak perempuannya.
Sejak kecil, Eni punya kekurangan; gagap ketika bicara. Karena telaten berlatih bicara, gagapnya sudah banyak berkurang saat dia masuk SMPN 3 Singotrunan, Banyuwangi.
Ketika duduk di bangku SMP, Eni pernah dihukum sekolah karena tidak mampu membeli sepatu yang diwajibkan sekolah. “Kaus kaki pun punya hanya sepasang, apalagi seragam sekolah. Jika hujan, baju saya tidak dicuci,” kenangnya.
Setamat SMP, Eni melanjutkan sekolah di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah). Berbeda dengan saat bersekolah di SMP, perjalanan Eni selama di SMA lancar-lancar saja. Setamat SMA dia sempat bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai tenaga administrasi. Tidak beberapa lama, tempat kerjanya bangkrut.
Eni tidak betah menjadi pengangguran. Tekadnya pun bulat untuk berangkat bekerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. “Motivasi saya bekerja adalah mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk kebutuhan hidup keluarga saya,” ujar bungsu tiga bersaudara itu.
Pada 2001, anak pasangan M. Yasin dan Asfia tersebut berangkat kerja ke Hongkong sebagai pembantu rumah tangga. Di Hongkong Eni mengurusi segala kebutuhan keluarga Chan. Mulai merawat anak, mengepel, setrika, hingga membersihkan rumah. “Tiga bulan pertama bekerja, saya tidak mendapatkan gaji dan diwajibkan untuk menguasai bahasa Kanton,” katanya.
Sebagai pembantu rumah tangga, Eni merasa setiap waktu adalah berharga. Karena sangat hobi membaca, dia setiap ada waktu luang menyempatkan diri untuk membaca. Seiring perjalanan waktu, anak juragannya mulai beranjak usia sekolah. Waktu itu setiap hari Eni mengantar anak juragannya sekolah.
“Saat anak juragan saya sekolah, saya menyempatkan diri ke internet dan perpustakaan. Enaknya, perpustakaan di sana menggunakan fasilitas internet dan membaca buku gratis,” kata wanita berjilbab itu.
Lewat internet, dia banyak belajar hingga akhirnya bergabung di milis kepenulisan di Hongkong Koosta. Di sana tempat TKW yang doyan menulis bergabung menjadi satu untuk mengekspresikan dirinya.
Eni pun menemukan situs www.Pembelajar.com yang menjadi jalan pembuka untuk mengubah jalan hidupnya. Situs tersebut merupakan kurikulumnya, sedangkan milis adalah tempat praktiknya. Kurang lebih enam bulan dia dibimbing Edy Zaques di situs itu. “Website ini sangat luar biasa. Saya mendapatkan apa pun di dalamnya,” ujarnya.
Lahir dari keluarga serbapas-pasan dan sejak kecil harus berhadapan dengan segala kekurangan itulah yang mendorong Eni selalu belajar. Hingga akhirnya, dia mencapai kesuksesan dengan menulis buku yang berjudul Anda Luar Biasa yang tercetak hingga 3.000 eksemplar.
Kontan, buku yang berisi tentang kehidupan Eni di Hongkong itu mendapatkan pujian dari penulis buku best seller, antara lain, Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Adi W. Gunawan, dan Bonari Nabonenar.
Tak sedikit pujian yang mampu mencengangkan bahwa tulisan Eni adalah tulisan yang sangat luar biasa. Tung Desem Waringin mengatakan, tulisan Eni sangat dahsyat.
Eni berpandangan bahwa berprofesi apa pun, entah itu tukang becak, tukang sapu, hingga pembantu rumah tangga, jika ingin sukses harus selalu belajar dan belajar. “Sejak kecil saya suka membaca. Namun, keluarga saya termasuk keluarga tidak mampu. Jadi, saya suka membaca apa pun. Koran bungkus nasi pun saya baca,” katanya
Puluhan puisi dan novelnya dibaca oleh kumpulan penulis dan novelis Indonesia maupun Hongkong. Eni mengatakan, puisinya yang berjudul Ajari Aku Kaya Om dijadikan buku bersama 100 penyair Indonesia dalam buku Jogja 5,9 Skala Richter. “Saat itu, saya bangga sekali,” ujarnya.
Selain itu, karya Eni ada di kumpulan cerpen Majalah Peduli milik Bonari Naboenar serta Majalah Ekspresi di Hongkong.
Sebagai TKW, Eni juga pernah mengalami nasib tragis. Dia pernah menjadi sasaran amukan juragannya hingga diusir. Dia pun pergi ke salah satu organisasi buruh di Hongkong yang bernama APPIH.
Saat itu saya bingung di-terminate (dipecat sebelum masa kontrak) atau tidak,” kata istri Hisam itu.
Namun, setelah diurus oleh agensi di Hongkong, juragan Eni menyusul ke APPIH. Keluarga Chan pun meminta maaf dan meminta Eni kembali ke rumahnya. Namun, saat itu Eni menolak. “Siapa yang tidak sakit hati. Kami tiba-tiba diusir begitu saja,” tuturnya.
Namun, setelah majikannya berjanji tidak mengulangi lagi, hati Eni pun luluh. Dia akhirnya kembali bekerja di rumah keluarga Chan. “Pada Februari 2007, saya putuskan untuk kembali ke Indonesia. Saya pulang ke rumah saya di Banyuwangi,” katanya. (*)
Selasa, 10 April 2007
Terbitkan Buku Motivasi, Tercetak 3.000 Eksemplar
Eni Kusuma, TKW Pembantu Rumah Tangga Intelek

Eni Kusuma, TKW asal Banyuwangi, membuat sejarah. Bukunya yang berjudul Anda Luar Biasa tercatat sebagai buku motivasi pertama yang ditulis oleh seorang pembantu rumah tangga asal Indonesia. Siapa sebenarnya Eni?
ENI terlahir dengan nama Eni Kusumawati, 27 Agustus 1977 silam. Dia tumbuh dan besar dalam asuhan keluarga kurang mampu di rumah sederhana di Jalan Belitung nomor 76, Kampung Arab, Banyuwangi, Jawa Timur. Kedua orangtuanya mengandalkan hasil jualan kerupuk keliling di pasar yang tidak jauh dari rumahnya. Penghasilan itu dirasa sangat kurang untuk menghidupi dia dan ketiga kakak perempuannya.
Sejak kecil, Eni punya kekurangan, yakni gagap ketika bicara. Karena telaten berlatih bicara, gagapnya sudah banyak berkurang saat dia mulai masuk SMPN 3 Singotrunan, Banyuwangi.
Ketika duduk di bangku SMP, Eni pernah dihukum sekolah karena tidak mampu beli sepatu yang diwajibkan oleh sekolah. ‘’Kaus kaki pun punya hanya sepasang, apalagi seragam sekolah. Jika hujan datang, baju saya tidak dicuci,’’ kenangnya.
Setamat SMP, Eni melanjutkan sekolah di SMAN 1 Banyuwangi (kini SMAN 1 Glagah). Berbeda ketika sekolah di SMP, perjalanan Eni selama di SMA lancar-lancar saja. Setamat SMA, dia sempat bekerja di sebuah perusahaan kecil sebagai tenaga administrasi. Tidak beberapa lama, tempat kerjanya bangkrut.
Eni tidak betah menjadi pengangguran. Tekadnya pun bulat untuk berangkat bekerja ke luar negeri sebagai pembantu rumah tangga. ‘’Motivasi saya bekerja adalah mencari pengalaman sekaligus mencari uang untuk kebutuhan hidup keluarga saya,’’ ujar bungsu tiga bersaudara ini.
Tepat pada 2001, anak pasangan M Yasin dan Asfia ini berangkat kerja ke Hong Kong sebagai pembantu rumah tangga. Di Hong Kong itu, Eni mengurusi segala kebutuhan keluarga Chan. Mulai merawat anak, mengepel, setrika hingga membersihkan rumah. ‘’Tiga bulan pertama bekerja, saya tidak mendapatkan gaji dan diwajibkan menguasai bahasa Kantonis,’’ katanya.
Sebagai pembantu rumah tangga, Eni merasa setiap waktu adalah berharga. Terutama dirinya yang sangat hobi membaca, ada waktu luang selalu menyempatkan diri membaca. Seiring perjalanan waktu, anak juragannya mulai beranjak usia sekolah. Waktu itu, Eni yang mengantar anak juragannya sekolah setiap hari. ‘’Saat anak juragan saya sekolah, saya menyempatkan diri ke internet dan perpustakaan. Enaknya perpustakaan di sana, menggunakan fasilitas internet dan membaca buku gratis,’’ kata wanita berjilbab ini.
Di internet, dirinya banyak belajar hingga akhirnya bergabung di milis kepenulisan di Hong Kong Koosta. Di sana tempat TKW yang doyan menulis bergabung menjadi satu untuk mengekspresikan diri.
Eni pun menemukan situs www.Pembelajar.com yang jadi jalan pembuka untuk mengubah jalan hidupnya. Situs tersebut merupakan kurikulumnya, sedangkan milis adalah tempat praktiknya. Kurang lebih enam bulan hasil belajarnya di bawah bimbingan Edy Zaques ada di www.Pembelajar.com. ‘’Singkatnya, website ini sangat luar biasa, saya mendapatkan apa pun di dalamnya,’’ ujarnya.
Lahir dari keluarga pas-pasan, dan sejak kecil harus berhadapan dengan segala kekurangan itulah yang membuat Eni selalu belajar. Hingga akhirnya dia mencapai kesuksesan dengan menulis buku yang berjudul Anda Luar Biasa yang tercetak hingga 3.000 eksemplar.
Kontan, buku yang berisi tentang kehidupannya di Hong Kong tersebut mendapatkan pujian dari penulis buku best seller seperti Andrie Wongso, Tung Desem Waringin, Adi W Gunawan, hingga Bonari Nabonenar.
Tak sedikit, pujian yang mampu mencengangkan, bahwa tulisan Eni adalah tulisan yang sangat luar biasa. Tung Desem Waringin mengatakan, tulisan Eni sangat dahsyat.
Eni berpandangan bahwa menjadi seorang apa pun, entah itu tukang becak, tukang sapu hingga pembantu rumah tangga, jika ingin sukses harus selalu belajar dan belajar. ‘’Sejak kecil saya suka membaca, namun keluarga saya termasuk keluarga tidak mampu. Jadi saya suka baca apa pun hingga koran bungkus nasi pun saya baca,’’ katanya
Hingga akhirnya, puluhan puisi dan novelnya dibaca oleh kumpulan penulis dan novelis Indonesia maupun Hong Kong. Eni mengatakan, puisinya yang berjudul Ajari Aku Kaya Om dijadikan buku bersama 100 penyair Indonesia dalam buku Jogja 5,9 Skala Richter. ‘’Saat itu, saya bangga sekali,’’ ujarnya.
Selain itu, karya Eni juga ada di kumpulan cerpen Majalah Peduli milik Bonari Naboenar serta Majalah Ekspresi di Hong Kong. Hingga pernah mengomentari tulisan Jennie S. Bev, penulis dan pengusaha sukses di San Fransisco asal Indonesia. ‘’Di sini saya ingin diakui secara intelektual bahwa TKW itu intelektualnya tidak rendah, dan di sini saya membuktikan saya bisa,’’ kata wanita yang baru menikah itu.
Namun, Eni juga pernah mengalami nasib tragis. Dia pernah menjadi sasaran amukan juragannya hingga diusir. Dia pun pergi ke salah satu organisasi buruh di Hong Kong yang bernama APPIH. Di sana Eni mulai menceritakan tetek bengek yang dialaminya selama menjadi pembantu. ‘’APPIH adalah salah satu tempat curhat, saat itu saya bingung di di-terminate (dipecat sebelum masa kontrak) atau tidak,’’ kata istri Hisam ini.
Namun, setelah diurus oleh agen di Hong Kong, juragan Eni menyusul ke APPIH. Keluarga Chan pun minta maaf dan meminta Eni kembali ke rumahnya. Namun saat itu Eni menolak. ‘’Siapa yang tidak sakit hati, kami tiba-tiba diusir begitu saja,’’ tuturnya. Namun setelah majikannya berjanji tidak mengulangi lagi, hati Eni pun luluh. Dia akhirnya kembali bekerja di rumah keluarga Chan. ‘’Akhirnya pada bulan Februari 2007, saya putuskan kembali ke Indonesia. Saya pulang ke rumah saya di Banyuwangi,’’ katanya.
Setibanya di Indonesia, Eni langsung mendapat undangan untuk menjadi pembicara di Tebet Sofyan Hotel Jakarta di acara Smart Write Smart Guinness bersama Johanes Arifin Wijaya. ‘’Suatu kebanggaan tersendiri,’’ katanya.
Eni mengaku, dirinya ingin jadi public speaker yang selalu eksis dalam bidang motivator. Saat ini, dirinya banyak belajar menulis skenario. ‘’Profil diri saya ditulis oleh Edy Zaques. Rencananya, profil itu akan dimunculkan di revisi buku berjudul Kalau Mau Kaya, Ngapain Sekolah,’’ katanya.(*/ALDILA AFRIKARTIKA, Banyuwangi)

Senin, 16 Januari 2012

arti sebuah perjalanan

Siddhartha Gautama

Dari Wikipedia bahasa Indonesia, ensiklopedia bebas
Siddhārtha Gautama Buddha

Patung Buddha dari Sarnath, abad ke-4.
Lahir c. 563 SM
Lumbini, sekarang berada di Nepal
Meninggal c. 483 SM
Kushinagar, sekarang berada di India
Dikenal karena Pendiri Agama Buddha
Pendahulu Buddha Kassapa
Pengganti Buddha Maitreya
Bagian dari serial
Agama Buddha

Lotus75.png
Sejarah
Garis waktu
Dewan-dewan Buddhis
Konsep ajaran agama Buddha
Empat Kesunyataan Mulia
Delapan Jalan Utama
Pancasila · Tuhan
Nirvana · Tri Ratna
Ajaran inti
Tiga Corak Umum
Samsara · Kelahiran kembali · Sunyata
Paticcasamuppada · Karma
Tokoh penting
Siddharta Gautama
Siswa utama · Keluarga
Tingkat-tingkat Pencerahan
Buddha · Bodhisattva
Empat Tingkat Pencerahan
Meditasi
Wilayah agama Buddha
Asia Tenggara · Asia Timur
Tibet · India dan Asia Tengah
Indonesia · Barat
Sekte-sekte agama Buddha
Theravada · Mahayana
Vajrayana · Sekte Awal
Kitab Suci
Sutta · Vinaya · Abdhidahamma
Dharma wheel 1.png
Gautama Buddha dilahirkan dengan nama Siddhārtha Gautama (Sanskerta: Siddhattha Gotama; Pali: "keturunan Gotama yang tujuannya tercapai"), dia kemudian menjadi sang Buddha (secara harfiah: orang yang telah mencapai Penerangan Sempurna). Dia juga dikenal sebagai Shakyamuni ('orang bijak dari kaum Sakya') dan sebagai sang Tathagata. Siddhartha Gautama adalah guru spiritual dari wilayah timur laut India yang juga merupakan pendiri Agama Buddha[1] Ia secara mendasar dianggap oleh pemeluk Agama Buddha sebagai Buddha Agung (Sammāsambuddha) pada masa sekarang. Waktu kelahiran dan kematiannya tidaklah pasti: sebagian besar sejarawan dari awal abad ke 20 memperkirakan kehidupannya antara tahun 563 SM sampai 483 SM; baru-baru ini, pada suatu simposium para ahli akan masalah ini,[2] sebagian besar dari ilmuwan yang menjelaskan pendapat memperkirakan tanggal berkisar antara 20 tahun antara tahun 400 SM untuk waktu meninggal dunianya, sedangkan yang lain menyokong perkiraan tanggal yang lebih awal atau waktu setelahnya.
Siddhartha Gautama merupakan figur utama dalam agama Buddha, keterangan akan kehidupannya, khotbah-khotbah, dan peraturan keagamaan yang dipercayai oleh penganut agama Buddha dirangkum setelah kematiannya dan dihafalkan oleh para pengikutnya. Berbagai kumpulan perlengkapan pengajaran akan Siddhartha Gautama diberikan secara lisan, dan bentuk tulisan pertama kali dilakukan sekitar 400 tahun kemudian. Pelajar-pelajar dari negara Barat lebih condong untuk menerima biografi Sang Buddha yang dijelaskan dalam naskah Agama Buddha sebagai catatan sejarah, tetapi belakangan ini "keseganan pelajar negara Barat meningkat dalam memberikan pernyataan yang tidak sesuai mengenai fakta historis akan kehidupan dan pengajaran Sang Buddha."[3]

Daftar isi

 [sembunyikan

[sunting] Orang tua

Ayah dari Pangeran Siddhartha Gautama adalah Sri Baginda Raja Suddhodana dari Suku Sakya dan ibunya adalah Ratu Mahā Māyā Dewi. Ibunda Pangeran Siddharta Gautama meninggal dunia tujuh hari setelah melahirkan Sang Pangeran. Setelah meninggal, beliau terlahir di alam/surga Tusita, yaitu alam surga luhur. Sejak meninggalnya Ratu Mahā Māyā Dewi, Pangeran Siddharta dirawat oleh Ratu Mahā Pajāpati, bibinya yang juga menjadi isteri Raja Suddhodana.

[sunting] Riwayat hidup

Relief kelahiran Pangeran Siddhartha. Dari kuil Zen You Mitsu, Tokyo.

[sunting] Kelahiran

Pangeran Siddharta dilahirkan pada tahun 563 SM di Taman Lumbini, saat Ratu Maha Maya berdiri memegang dahan pohon sal. Pada saat ia lahir, dua arus kecil jatuh dari langit, yang satu dingin sedangkan yang lainnya hangat. Arus tersebut membasuh tubuh Siddhartha. Siddhartha lahir dalam keadaan bersih tanpa noda, berdiri tegak dan langsung dapat melangkah ke arah utara, dan tempat yang dipijakinya ditumbuhi bunga teratai.
Oleh para pertapa di bawah pimpinan Asita Kaladewala, diramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi seorang Chakrawartin (Maharaja Dunia) atau akan menjadi seorang Buddha. Hanya pertapa Kondañña yang dengan tegas meramalkan bahwa Sang Pangeran kelak akan menjadi Buddha. Mendengar ramalan tersebut Sri Baginda menjadi cemas, karena apabila Sang Pangeran menjadi Buddha, tidak ada yang akan mewarisi tahta kerajaannya. Oleh pertanyaan Sang Raja, para pertapa itu menjelaskan agar Sang Pangeran jangan sampai melihat empat macam peristiwa. Bila tidak, ia akan menjadi pertapa dan menjadi Buddha. Empat macam peristiwa itu adalah:
  1. Orang tua,
  2. Orang sakit,
  3. Orang mati,
  4. Seorang pertapa.

[sunting] Masa kecil

Sejak kecil sudah terlihat bahwa Sang Pangeran adalah seorang anak yang cerdas dan sangat pandai, selalu dilayani oleh pelayan-pelayan dan dayang-dayang yang masih muda dan cantik rupawan di istana yang megah dan indah. Pada saat berusia 7 tahun, Pangeran Siddharta mempunyai 3 kolam bunga teratai, yaitu:
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Biru (Uppala)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Merah (Paduma)
  • Kolam Bunga Teratai Berwarna Putih (Pundarika)
Dalam Usia 7 tahun Pangeran Siddharta telah mempelajari berbagai ilmu pengetahuan. Pangeran Siddharta menguasai semua pelajaran dengan baik. Dalam usia 16 tahun Pangeran Siddharta menikah dengan Puteri Yasodhara yang dipersuntingnya setelah memenangkan berbagai sayembara. Dan saat berumur 16 tahun, Pangeran memiliki tiga Istana, yaitu:
  • Istana Musim Dingin (Ramma)
  • Istana Musim Panas (Suramma)
  • Istana Musim Hujan (Subha)

[sunting] Masa dewasa

Pangeran Siddhartha melihat empat hal yang mengubah hidupnya.
Kata-kata pertapa Asita membuat Raja Suddhodana tidak tenang siang dan malam, karena khawatir kalau putra tunggalnya akan meninggalkan istana dan menjadi pertapa, mengembara tanpa tempat tinggal. Untuk itu Baginda memilih banyak pelayan untuk merawat Pangeran Siddharta, agar putra tunggalnya menikmati hidup keduniawian. Segala bentuk penderitaan berusaha disingkirkan dari kehidupan Pangeran Siddharta, seperti sakit, umur tua, dan kematian, sehingga Pangeran hanya mengetahui kenikmatan duniawi.
Suatu hari Pangeran Siddharta meminta izin untuk berjalan di luar istana, dimana pada kesempatan yang berbeda dilihatnya "Empat Kondisi" yang sangat berarti, yaitu orang tua, orang sakit, orang mati dan orang suci. Pangeran Siddhartha bersedih dan menanyakan kepada dirinya sendiri, "Apa arti kehidupan ini, kalau semuanya akan menderita sakit, umur tua dan kematian. Lebih-lebih mereka yang minta pertolongan kepada orang yang tidak mengerti, yang sama-sama tidak tahu dan terikat dengan segala sesuatu yang sifatnya sementara ini!". Pangeran Siddharta berpikir bahwa hanya kehidupan suci yang akan memberikan semua jawaban tersebut.
Selama 10 tahun lamanya Pangeran Siddharta hidup dalam kesenangan duniawi. Pergolakan batin Pangeran Siddharta berjalan terus sampai berusia 29 tahun, tepat pada saat putra tunggalnya Rahula lahir. Pada suatu malam, Pangeran Siddharta memutuskan untuk meninggalkan istananya dan dengan ditemani oleh kusirnya, Canna. Tekadnya telah bulat untuk melakukan Pelepasan Agung dengan menjalani hidup sebagai pertapa.
Setelah itu Pangeran Siddhartha meninggalkan istana, keluarga, kemewahan, untuk pergi berguru mencari ilmu sejati yang dapat membebaskan manusia dari usia tua, sakit dan mati. Pertapa Siddharta berguru kepada Alāra Kālāma dan kemudian kepada Uddaka Ramāputra, tetapi tidak merasa puas karena tidak memperoleh yang diharapkannya. Kemudian beliau bertapa menyiksa diri dengan ditemani lima orang pertapa. Akhirnya beliau juga meninggalkan cara yang ekstrem itu dan bermeditasi di bawah pohon Bodhi untuk mendapatkan Penerangan Agung.

[sunting] Masa pengembaraan

Pangeram Siddharta mencukur rambutnya dan menjadi pertapa, relief Borobudur.
Patung Buddha dari Gandhara, abad ke-1 atau abad ke-2.
Didalam pengembaraannya, pertapa Gautama mempelajari latihan pertapaan dari pertapa Bhagava dan kemudian memperdalam cara bertapa dari dua pertapa lainnya, yaitu pertapa Alara Kalama dan pertapa Udraka Ramputra. Namun setelah mempelajari cara bertapa dari kedua gurunya tersebut, tetap belum ditemukan jawaban yang diinginkannya. Sehingga sadarlah pertapa Gautama bahwa dengan cara bertapa seperti itu tidak akan mencapai Pencerahan Sempurna. Kemudian pertapa Gautama meninggalkan kedua gurunya dan pergi ke Magadha untuk melaksanakan bertapa menyiksa diri di hutan Uruwela, di tepi Sungai Nairanjana yang mengalir dekat Hutan Gaya. Walaupun telah melakukan bertapa menyiksa diri selama enam tahun di Hutan Uruwela, tetap pertapa Gautama belum juga dapat memahami hakikat dan tujuan dari hasil pertapaan yang dilakukan tersebut.
Pada suatu hari pertapa Gautama dalam pertapaannya mendengar seorang tua sedang menasihati anaknya di atas perahu yang melintasi sungai Nairanjana dengan mengatakan:
Bila senar kecapi ini dikencangkan, suaranya akan semakin tinggi. Kalau terlalu dikencangkan, putuslah senar kecapi ini, dan lenyaplah suara kecapi itu. Bila senar kecapi ini dikendorkan, suaranya akan semakin merendah. Kalau terlalu dikendorkan, maka lenyaplah suara kecapi itu.
Nasehat tersebut sangat berarti bagi pertapa Gautama yang akhirnya memutuskan untuk menghentikan tapanya lalu pergi ke sungai untuk mandi. Badannya yang telah tinggal tulang hampir tidak sanggup untuk menopang tubuh pertapa Gautama. Seorang wanita bernama Sujata memberi pertapa Gautama semangkuk susu. Badannya dirasakannya sangat lemah dan maut hampir saja merenggut jiwanya, namun dengan kemauan yang keras membaja, pertapa Gautama melanjutkan samadhinya di bawah pohon bodhi (Asetta) di Hutan Gaya, sambil ber-prasetya, "Meskipun darahku mengering, dagingku membusuk, tulang belulang jatuh berserakan, tetapi aku tidak akan meninggalkan tempat ini sampai aku mencapai Pencerahan Sempurna."
Perasaan bimbang dan ragu melanda diri pertapa Gautama, hampir saja Beliau putus asa menghadapi godaan Mara, setan penggoda yang dahsyat. Dengan kemauan yang keras membaja dan dengan iman yang teguh kukuh, akhirnya godaan Mara dapat dilawan dan ditaklukkannya. Hal ini terjadi ketika bintang pagi memperlihatkan dirinya di ufuk timur.
Pertapa Gautama telah mencapai Pencerahan Sempurna dan menjadi Samyaksam-Buddha (Sammasam-Buddha), tepat pada saat bulan Purnama Raya di bulan Waisak ketika ia berusia 35 tahun (menurut versi Buddhisme Mahayana, 531 SM pada hari ke-8 bulan ke-12, menurut kalender lunar. Versi WFB, pada bulan Mei tahun 588 SM). Pada saat mencapai Pencerahan Sempurna, dari tubuh Sang Siddharta memancar enam sinar Buddha (Buddharasmi) dengan warna biru yang berarti bhakti; kuning mengandung arti kebijaksanaan dan pengetahuan; merah yang berarti kasih sayang dan belas kasih; putih mengandung arti suci; jingga berarti giat; dan campuran kelima sinar tersebut.

[sunting] Penyebaran ajaran Buddha

Sang Buddha memberi pelajaran tentang dharma kepada lima pertapa di Taman Rusa
Setelah mencapai Pencerahan Sempurna, pertapa Gautama mendapat gelar kesempurnaan yang antara lain: Buddha Gautama, Buddha Shakyamuni, Tathagata ('Ia Yang Telah Datang', Ia Yang Telah Pergi'), Sugata ('Yang Maha Tahu'), Bhagava ('Yang Agung') dan sebagainya. Lima pertapa yang mendampingi Beliau di hutan Uruwela merupakan murid pertama Sang Buddha yang mendengarkan khotbah pertama Dhammacakka Pavattana, dimana Beliau menjelaskan mengenai Jalan Tengah yang ditemukan-Nya, yaitu Delapan Ruas Jalan Kemuliaan termasuk awal khotbahNya yang menjelaskan "Empat Kebenaran Mulia".
Buddha Gautama berkelana menyebarkan Dharma selama empat puluh lima tahun lamanya kepada umat manusia dengan penuh cinta kasih dan kasih sayang, hingga akhirnya mencapai usia 80 tahun, saat ia menyadari bahwa tiga bulan lagi ia akan mencapai Parinibbana.
Sang Buddha dalam keadaan sakit terbaring di antara dua pohon sala di Kusinagara, memberikan khotbah Dharma terakhir kepada siswa-siswa-Nya, lalu Parinibbana (versi Buddhisme Mahayana, 486 SM pada hari ke-15 bulan ke-2 kalender Lunar. Versi WFB pada bulan Mei, 543 SM).

[sunting] Sifat Agung Sang Buddha

Sang Buddha menjelang Parinirwana.
Seorang Buddha memiliki sifat Cinta Kasih (maitri atau metta) dan Kasih Sayang (karuna). Cinta Kasih dan Kasih Sayang seorang Buddha tidak terbatas oleh waktu dan selalu abadi, karena telah ada dan memancar sejak manusia pertama kalinya terlahir dalam lingkaran hidup roda samsara yang disebabkan oleh ketidaktahuan atau kebodohan batinnya. Jalan untuk mencapai Kebuddhaan ialah dengan melenyapkan ketidaktahuan atau kebodohan batin yang dimiliki oleh manusia. Pada waktu Pangeran Siddharta meninggalkan kehidupan duniawi, ia telah mengikrarkan Empat Prasetya yang berdasarkan Cinta Kasih dan Kasih Sayang yang tidak terbatas, yaitu
  1. Berusaha menolong semua makhluk.
  2. Menolak semua keinginan nafsu keduniawian.
  3. Mempelajari, menghayati dan mengamalkan Dharma.
  4. Berusaha mencapai Pencerahan Sempurna.
Buddha Gautama pertama melatih diri untuk melaksanakan amal kebajikan kepada semua makhluk dengan menghindarkan diri dari sepuluh tindakan yang diakibatkan oleh tubuh, ucapan dan pikiran, yaitu
  • Tubuh (kaya): pembunuhan, pencurian, perbuatan jinah.
  • Ucapan (vak): penipuan, pembicaraan fitnah, pengucapan kasar, percakapan tiada manfaat.
  • Pikiran (citta): kemelekatan, niat buruk dan kepercayaan yang salah.
Cinta kasih dan kasih sayang seorang Buddha adalah cinta kasih untuk kebahagiaan semua makhluk seperti orang tua mencintai anak-anaknya, dan mengharapkan berkah tertinggi terlimpah kepada mereka. Akan tetapi terhadap mereka yang menderita sangat berat atau dalam keadaan batin gelap, Sang Buddha akan memberikan perhatian khusus. Dengan Kasih Sayang-Nya, Sang Buddha menganjurkan supaya mereka berjalan di atas jalan yang benar dan mereka akan dibimbing dalam melawan kejahatan, hingga tercapai "Pencerahan Sempurna".
Sebagai Buddha yang abadi, Beliau telah mengenal semua orang dan dengan menggunakan berbagai cara Beliau telah berusaha untuk meringankan penderitaan semua makhluk. Buddha Gautama mengetahui sepenuhnya hakekat dunia, namun Beliau tidak pernah mau mengatakan bahwa dunia ini asli atau palsu, baik atau buruk. Ia hanya menunjukkan tentang keadaan dunia sebagaimana adanya. Buddha Gautama mengajarkan agar setiap orang memelihara akar kebijaksanaan sesuai dengan watak, perbuatan dan kepercayaan masing-masing. Ia tidak saja mengajarkan melalui ucapan, akan tetapi juga melalui perbuatan. Meskipun bentuk fisik tubuh-Nya tidak ada akhirnya, namun dalam mengajar umat manusia yang mendambakan hidup abadi, Beliau menggunakan jalan pembebasan dari kelahiran dan kematian untuk membangunkan perhatian mereka.
Pengabdian Buddha Gautama telah membuat diri-Nya mampu mengatasi berbagai masalah di dalam berbagai kesempatan yang pada hakekatnya adalah Dharma-kaya, yang merupakan keadaan sebenarnya dari hakekat yang hakiki dari seorang Buddha. Sang Buddha adalah pelambang dari kesucian, yang tersuci dari semua yang suci. Karena itu, Sang Buddha adalah Raja Dharma yang agung. Ia dapat berkhotbah kepada semua orang, kapanpun dikehendaki-Nya. Sang Buddha mengkhotbahkan Dharma, akan tetapi sering terdapat telinga orang yang bodoh karena keserakahannya dan kebenciannya, tidak mau memperhatikan dan mendengarkan khotbah-Nya. Bagi mereka yang mendengarkan khotbah-Nya, yang dapat mengerti dan menghayati serta mengamalkan Sifat Agung Sang Buddha akan terbebas dari penderitaan hidup. Mereka tidak akan dapat tertolong hanya karena mengandalkan kepintarannya sendiri.

[sunting] Wujud dan kehadiran Buddha

Sang Buddha tidak hanya dapat mengetahui dengan hanya melihat wujud dan sifat-Nya semata-mata, karena wujud dan sifat luar tersebut bukanlah Buddha yang sejati. Jalan yang benar untuk mengetahui Buddha adalah dengan jalan membebaskan diri dari hal-hal duniawi/menjalani hidup dengan cara bertapa. Buddha sejati tidak dapat dilihat oleh mata manusia biasa, sehingga Sifat Agung seorang Buddha tidak dapat dilukiskan dengan kata-kata. Namun Buddha dapat mewujudkan diri-Nya dalam segala bentuk dengan sifat yang serba luhur. Apabila seseorang dapat melihat jelas wujud-Nya atau mengerti Sifat Agung Buddha, namun tidak tertarik kepada wujud-Nya atau sifat-Nya, dialah yang sesungguhnya yang telah mempunyai kebijaksanaan untuk melihat dan mengetahui Buddha dengan benar.

[sunting] Lihat pula

[sunting] Pranala luar